Ittisholana – Dalam acara Halal Bihalal Ittisholana pada Kamis, 26 Maret 2026, KH. Muhammad Kholil As’ad selaku Pembina Ittisholana menyampaikan arahan penting terkait pola dan tingkatan pembacaan Sholawat Nariyah di lingkungan Ittisholana.
Beliau menegaskan bahwa Sholawat Nariyah adalah sholawat perjuangan yang harus menjadi bagian dari misi, dakwah, dan cita-cita Nabi Muhammad ﷺ untuk umat.
Sebagai sholawat perjuangan, pembacaan Sholawat Nariyah di setiap pertemuan atau rutinan di Ittisholana harus selalu diawali dengan lima niat utama sebagaimana telah sering disampaikan dalam berbagai majelis.
Lima niat ini menjadi fondasi yang menyatukan langkah jamaah, sehingga bacaan sholawat tidak hanya menjadi rangkaian lafaz, tetapi terikat dengan misi besar memperjuangkan kemuliaan umat Nabi Muhammad ﷺ.
Dalam dawuhnya, KH. Muhammad Kholil As’ad menjelaskan bahwa pembacaan Sholawat Nariyah dalam satu majelis dilaksanakan dalam jumlah tertentu. Ada empat tingkatan jumlah pembacaan yang saling berkaitan sebagai proses bertahap.
Tingkat 1: Pembacaan 11 Kali
Tingkatan pertama adalah pembacaan Sholawat Nariyah sebanyak 11 kali. KH. Muhammad Kholil As’ad menerangkan bahwa tahap ini bisa menjadi pintu masuk dan proses pembiasaan, khususnya bagi jamaah yang baru memulai atau masih membangun istiqamah.
Meskipun jumlahnya masih sedikit, pembacaan 11 kali tetap termasuk dalam rombongan sholawat perjuangan. Beliau mengingatkan, sangat disayangkan jika mereka yang baru mampu membaca 11 kali tidak dianggap sebagai bagian dari perjuangan. Justru pada tahap awal inilah langkah jamaah perlu dihargai dan dijaga agar tumbuh menjadi kebiasaan yang lebih kuat.
Tingkat 2: Pembacaan 41 Kali
Tingkatan kedua adalah pembacaan sebanyak 41 kali. Menurut arahan KH. Muhammad Kholil As’ad, peningkatan jumlah ini menunjukkan adanya kenaikan semangat, kesanggupan, dan kesungguhan dalam bershalawat.
Pada fase ini, jamaah mulai memasuki tahap penguatan komitmen. Bacaan yang lebih banyak diharapkan selaras dengan semakin kuatnya keterikatan hati (sambhungan) kepada Nabi Muhammad ﷺ, serta semakin dalamnya rasa tanggung jawab untuk memperjuangkan kebaikan umat.
Tingkat 3: Pembacaan 100 Kali per Orang dalam Satu Majelis
Tingkatan ketiga adalah pembacaan Sholawat Nariyah 100 kali oleh masing-masing peserta dalam satu majelis, tanpa bergantung pada jumlah jamaah yang hadir—sepuluh orang, kurang, atau lebih. KH. Muhammad Kholil As’ad menekankan bahwa tingkatan ini menonjolkan aspek kebersamaan dan berjamaah.
Dalam model ini, setiap individu memikul porsi bacaan yang lebih besar namun tetap dalam satu barisan. Seluruh bacaan dikumpulkan sebagai sholawat perjuangan yang diikat oleh niat yang sama, memperkuat rasa persatuan dan tanggung jawab bersama.
Tingkat 4: Mengkhatamkan 4.444 Kali
Tingkatan keempat merupakan tingkatan paling utama, yaitu ketika Sholawat Nariyah dikhatamkan sebanyak 4.444 kali. KH. Muhammad Kholil As’ad memaparkan bahwa khataman ini dipandang sebagai puncak proses, bentuk kesungguhan maksimal, serta simbol kesatuan niat dan doa jamaah dalam satu perjuangan ruhani.
Pada tingkatan ini, pembacaan Sholawat Nariyah tidak lagi sekadar rutinitas, tetapi telah menjadi lambang keseriusan dalam memohon pertolongan Allah dan keberkahan melalui wasilah sholawat kepada Rasulullah ﷺ.
Dalam dawuhnya, KH. Muhammad Kholil As’ad menegaskan bahwa yang paling utama adalah mengkhatamkan Sholawat Nariyah sebanyak 4.444 kali. Namun, beliau juga mengingatkan bahwa pembacaan 11 kali, 41 kali, atau 100 kali tidak boleh diremehkan.
Apabila perhatian dan pencatatan hanya diberikan kepada jamaah yang telah mencapai 4.444 kali, sementara mereka yang membaca 11, 41, atau 100 kali diabaikan, maka hal itu sama saja dengan menyia-nyiakan jamaah yang sejatinya juga sedang berproses dalam perjuangan yang sama.
Mereka yang masih berada pada tingkatan 11 kali diharapkan terus berproses hingga suatu saat meningkat menjadi 41 kali, lalu 100 kali, dan pada akhirnya mampu ikut serta dalam khataman 4.444 kali. Demikian pula jamaah yang kini berada pada tingkatan 41 atau 100 kali, seluruhnya tetap ditempatkan sebagai bagian sah dari barisan sholawat perjuangan di Ittisholana. KH. Muhammad Kholil As’ad menutup arahannya dengan penegasan bahwa berapa pun jumlah bacaan—11, 41, 100, hingga 4.444 kali—yang terpenting adalah kesatuan niat dan arah perjuangan: seluruh bacaan harus didahului dengan niat yang sama, agar benar-benar menyatu sebagai bagian dari perjuangan bersama untuk mencari ridho Allah dan memperjuangkan kemuliaan umat Nabi Muhammad ﷺ.
