ArtikelDawuh

Tanhallu Bihil ‘Uqad Menurut Kiai Ahmad Sufyan

15
×

Tanhallu Bihil ‘Uqad Menurut Kiai Ahmad Sufyan

Share this article

Tanhallu Bihil ‘Uqad Menurut Kiai Ahmad Sufyan

Apa arti Tanhallu Bihil ‘Uqad dalam Sholawat Nariyah?

Menurut kiai Ahmad Sufyan, Kaum jahiliyah sebelum diutusnya Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ disebut sebagai jahiliyah bukan karena mereka bodoh atau tidak mengenal ilmu pengetahuan.

Pada masa itu, berbagai cabang ilmu telah tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Bahkan para sejarawan menyebutkan bahwa lebih dari tiga puluh cabang ilmu pengetahuan telah dikenal oleh masyarakat pada masa tersebut.

Mereka disebut kaum jahiliyah karena tidak mengenal siapa Dzat yang mengatur kehidupan ini (olona odi’). Akal dan hati mereka mengalami kebuntuan, tertutup, dan terkunci, terutama dalam empat bentuk kebuntuan (al-‘uqad), yaitu:

  1. Kebuntuan akidah (‘uqdah at-tauḥīd)

Yaitu kebuntuan dalam hal ketuhanan. Mereka tidak mengenal Allah sebagai Dzat Wājib al-Wujūd (Dzat yang pasti ada). Akibatnya, sebagian dari mereka menyembah matahari, api, bahkan berhala.

2. Kebuntuan sosial (al-‘uqdah al-ijtimā‘iyyah)

Yaitu kebuntuan dalam tata kehidupan bermasyarakat. Mereka tidak memahami adab hidup sosial, pengelolaan rumah tangga, dan hubungan kemanusiaan secara benar.

3. Kebuntuan politik (al-‘uqdah as-siyāsiyyah)

Yaitu kebuntuan dalam bidang ketatanegaraan, tata kelola kepemimpinan, serta cara hidup berbangsa dan bernegara.

4. Kebuntuan ekonomi (al-‘uqdah al-iqtiṣādiyyah)

Yaitu kebuntuan dalam sistem dan tatanan ekonomi, sehingga melahirkan berbagai bentuk ketidakadilan dan penindasan.

Keempat kebuntuan ini terbuka berkat diutusnya Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ: تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَد (tanhallu bihil ‘uqad),

sehingga segala kesusahan menjadi lapang: تَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ (tanfariju bihil kurab),

segala kebutuhan dan hajat dapat terpenuhi: تُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ (tuqḍā bihil ḥawā’ij),

bahkan keinginan-keinginan meski tanpa diminta juga dikaruniakan oleh Allah : وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ (wa tunālu bihir raghā’ib).

Begitu juga anugerah yang paling besar yaitu husnul khātimah, wafat dalam keadaan membawa iman dan Islam bisa diperoleh وَحُسنُ الخَوَاتِم (wa ḥusnu al-khawātimi). Karena sejatinya, tidak ada nikmat yang lebih agung selain mendapatk ampunan Allah ﷻ.

Inilah isi, makna, dan kandungan utama Shalawat Nariyah. Barang siapa membacanya, mengamalkannya, serta memperjuangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, maka ia akan memperoleh mahabbah (cinta), keberkahan, hubungan yang baik, serta aliran rahmat Allah yang disampaikan melalui Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

✉️