ArtikelKisah Inspiratif

Rambutan Kecut dan Akhlak yang Manis

20
×

Rambutan Kecut dan Akhlak yang Manis

Share this article

Rambutan Kecut dan Akhlak yang Manis

Pada suatu hari, Kiai Muhammad Tamim Sufyan diundang untuk mengisi pengajian di sebuah tempat yang juga dihadiri oleh Kiai Muhammad Kholil As’ad.

Sebelum acara dimulai, para kiai dipersilakan beristirahat di rumah pengundang. Tuan rumah menyambut dengan penuh takzim, mengeluarkan hidangan terbaik yang ia punya : aneka kue, minuman, dan satu piring besar rambutan yang tampak segar memerah.

Kiai Tamim duduk berseberangan dengan Kiai Kholil. Dari tempat duduknya, beliau melihat bagaimana Kiai Kholil mengambil rambutan satu per satu, mengupasnya, lalu memakannya dengan tenang. Wajahnya terlihat sangat menikmati, seolah rambutan itu adalah buah paling manis di dunia.

“ MasyaAllah, sepertinya enak sekali,” batin Kiai Tamim.

Rasa penasarannya muncul. Pelan-pelan, beliau ikut mengambil satu rambutan dari piring yang sama. Kulitnya merah ranum, isinya tampak putih mengkilat dengan penuh harap, Kiai Tamim menggigit buah itu.

Begitu rambutan menyentuh lidah, beliau hampir spontan mengernyit. Ternyata rasanya sangat kecut. Bukan sekadar kurang manis, tapi benar-benar kecut sampai membuat lidahnya bergetar. Kiai Tamim berusaha menahan ekspresi, khawatir menyinggung perasaan tuan rumah. Namun, untuk menghabiskan satu buah rasanya sangat berat. Pelan-pelan, beliau mengambil tisu, menyingkirkan sisa rambutan yang tak sanggup lagi ditelan.

Di tengah kegagapan lidahnya melawan rasa asam, pandangan beliau kembali tertuju kepada Kiai Kholil. Betapa herannya Kiai Tamim ketika melihat Kiai Kholil masih terus mengambil rambutan dari piring yang sama, satu demi satu, dan memakannya dengan ekspresi yang sama: tenang, menikmati, seolah rasanya manis saja.

“Apakah Kiai Kholil punya cara khusus memilih rambutan yang manis?” tanya Kiai Tamim dalam hati.

“Atau ini termasuk karamah, keistimewaan beliau sehingga bisa merasakan yang manis dari buah yang sama?” Rasa penasaran itu belum padam.

Beberapa saat kemudian, Kiai Tamim kembali mencoba. Beliau mengambil rambutan yang lain, dari piring yang sama, berharap kali ini mendapat yang lebih manis. Namun takdirnya sama : begitu digigit, rasa kecutnya justru terasa lebih kuat. Sekali lagi, beliau tidak sanggup menghabiskan satu buah. Sementara itu, Kiai Kholil tampak sudah menghabiskan belasan rambutan, tanpa sedikit pun menunjukkan tanda tidak suka.

“Nyata,” batin Kiai Tamim, “ini pasti salah satu keistimewaan beliau.”

Beberapa hari berlalu. Seperti biasa, Kiai Tamim dan beberapa kiai lain mengikuti pengajian rutin di pesantren Kiai Kholil. Mereka membaca kitab Bahjatun Nufus, berdiskusi, dan mengambil banyak ilmu dari beliau.

Seusai ngaji, suasana mencair. Para kiai duduk santai bercanda dan bertukar cerita. Di tengah obrolan itulah, Kiai Tamim teringat peristiwa rambutan kecut. Dengan nada bercanda namun penuh takzim, beliau berkata di hadapan para kiai yang hadir :

“Saya punya cerita tentang keistimewaan Kiai Kholil. Beliau ini luar biasa, bisa membedakan mana rambutan yang manis, mana yang kecut.”

Para kiai langsung tertarik. Sebagian tersenyum, sebagian lagi menunggu kelanjutan cerita. Kiai Tamim lalu berkisah tentang jamuan beberapa hari sebelumnya : bagaimana beliau dan Kiai Kholil duduk bersama, disuguhi rambutan dalam satu piring, lalu bagaimana beliau merasakan rambutan yang sangat kecut, sementara Kiai Kholil tampak begitu menikmati, seolah memakan rambutan super manis.

“Padahal kami makan dari piring yang sama,” tutur Kiai Tamim.

“ Saya tidak sanggup menghabiskan satu rambutan, sedangkan Kiai Kholil memakannya berkali-kali dengan wajah bahagia.”

Para kiai tampak kagum. Ada yang bertanya, separuh serius, separuh bercanda:

“ Kiai Kholil, bagaimana caranya? Apa ada tanda rambutan yang manis bisa dilihat dari luar? ”

Kiai Kholil hanya tersenyum. Lalu beliau berkata pelan, namun jelas terdengar oleh semua yang hadir: “Sebenarnya, semua rambutan yang saya makan waktu itu kecut. Semuanya. Tidak ada satu pun yang manis.”

Jawaban ini di luar dugaan. Orang-orang sempat menyangka akan mendengar rahasia cara memilih buah, atau cerita karamah. Yang muncul justru kalimat sederhana namun menohok.

“Saya menahan rasa kecut itu,” lanjut Kiai Kholil, “ dan berusaha bersikap menikmati suguhan, agar tuan rumah merasa senang. Mereka sudah bersusah payah menjamu kita dengan apa yang mereka punya. Jangan sampai saya tampak tidak suka, nanti hatinya sedih.”

Para kiai tertawa, bukan karena mengejek, tapi karena merasa takjub bercampur kagum. Tawa yang di dalamnya ada rasa hormat. Tawa yang menyembunyikan kekaguman mendalam terhadap akhlak Kiai Kholil.

Di hati masing-masing, tumbuh satu kesadaran;  ternyata, keistimewaan Kiai Kholil bukan pada kemampuan memilih rambutan yang manis, tetapi pada kemampuan beliau menjaga manisnya hati orang lain—meski harus menelan rambutan yang sangat kecut.

Kisah “rambutan kecut” ini tampak sederhana. Tidak ada kisah spektakuler, tidak ada kejadian luar biasa. Hanya buah rambutan, piring suguhan, dan senyum tuan rumah. Namun di sanalah letak keindahannya. Beliau memilih menanggung sedikit ketidaknyamanan, daripada membuat orang lain merasa malu atau kecewa.

Di zaman ketika banyak orang gampang mengomentari makanan, mudah mencela suguhan, dan dengan ringan memamerkan ketidaksukaan di depan orang lain, kisah ini menjadi cermin: Bisakah kita menahan sedikit rasa “kecut”, demi menjaga manisnya hati saudara kita? Bisakah kita menahan lidah agar tidak mengeluh, menahan wajah agar tidak meremehkan, menahan komentar agar tidak melukai?

Kiai Kholil mengajarkan bahwa memuliakan manusia adalah bagian dari memuliakan Allah. Menghargai usaha kecil orang lain adalah bentuk syukur atas nikmat yang kita terima. Dan menelan “rambutan kecut” dengan senyum, bisa jadi lebih manis di sisi Allah dari pada makanan terenak di dunia.

✉️