Dalam ajaran Islam, perjuangan atau jihad adalah badzlu al-juhd li i‘lā’i kalimatillāh, yakni mengerahkan seluruh kesungguhan, baik dalam gerak maupun diam, untuk meninggikan Kalimat Allah Swt.
Perjuangan bukan hanya identik dengan pertempuran fisik di medan perang, tetapi mencakup berbagai bentuk perjuangan seorang Muslim untuk taat kepada Allah. Perjuangan memiliki beberapa tingkatan yang saling melengkapi. Dengan memahaminya, kita bisa menempatkan perjuangan secara proporsional dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Terdapat empat tingkatan jihad, yang jika dirinci melahirkan tiga belas macam perjuangan. Seorang Muslim yang meninggalkan seluruh bentuk perjuangan ini termasuk dalam sifat orang munafik, karena tidak ada kesungguhan dalam membela kebenaran dan menaati Allah.
A. Perjuangan Melawan Hawa Nafsu
Tingkatan pertama dan paling mendasar adalah perjuangan melawan hawa nafsu. Ini adalah perjuangan batin yang harus dilakukan setiap Muslim sepanjang hidupnya.
Perjuangan melawan hawa nafsu memiliki empat langkah penting:
- Belajar Ilmu Agama.
Seorang Muslim harus berjuang untuk mempelajari akidah, ibadah, akhlak dan asas-asas agama yang diperlukan dalam kesehariannya, sesuai dengan tuntunan para ulama. Tanpa ilmu, ia akan mudah tersesat oleh hawa nafsu dan godaan dunia. - Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari Ilmu tidak cukup hanya diketahui, tetapi harus diwujudkan dalam amal: menghadirkan keikhlasan niat dalam segala aktivitas, ibadah yang benar, akhlak yang baik, dan menjauhi dosa.
- Menyeru orang lain kepada kebenaran
Disamping berilmu dan beramal, seorang Muslim berjuang mengajak orang lain kepada kebaikan: keluarga, teman, dan masyarakat, dengan cara yang bijak dan penuh kasih sayang. - Bersabar dalam dakwah dan sabar atas gangguan dalam perjuangan.
Dalam mengajak kepada kebaikan, pasti ada tantangan, penolakan, bahkan gangguan. Di sinilah perjuangan kesabaran diperlukan: tidak mudah putus asa, tetap lembut, dan istiqamah di jalan dakwah.
Barang siapa menunaikan keempat tingkatan perjuangan terhadap hawa nafsunya ini, ia akan mendapatkan kedudukan mulia di sisi Allah dan dimuliakan di hadapan makhluk di langit.
B. Perjuangan Melawan Setan
Setan selalu berusaha menyesatkan manusia dengan dua pintu besar: keraguan dan syahwat. Karena itu, perjuangan melawan setan memiliki dua sisi:
- Melawan syubhat dan keraguan dengan senjata keyakinan.
Setan menebar keraguan tentang agama: meragukan janji Allah, hari akhir, atau aturan syariat. Seorang Muslim melawannya dengan menguatkan iman dan dekat dengan para ulama untuk meneladani mereka. - Melawan dorongan syahwat dengan senjata kesabaran.
Setan juga menggoda melalui keinginan yang berlebihan terhadap dunia: maksiat, kemewahan yang melalaikan, atau perbuatan haram. Obatnya adalah sabar: sabar menahan diri dari yang haram, sabar menjalankan kewajiban, dan sabar menerima takdir Allah.
Perjuangan melawan setan ini sifatnya terus-menerus, karena godaan tidak pernah berhenti selama manusia masih hidup.
C. Perjuangan Melawan Orang Kafir dan Munafik
Perjuangan pada tingkatan ini menyangkut pembelaan terhadap agama dari pihak yang memusuhi Islam. Bentuknya dapat berbeda-beda sesuai kondisi dan kemampuan:
- Dengan hati: membenci kekufuran dan kemunafikan, serta mencintai keimanan dan ketaatan.
- Dengan lisan: menjelaskan kebenaran, membantah tuduhan yang keliru tentang Islam, serta menyampaikan dakwah secara bijak.
- Dengan harta: mendukung dakwah, pendidikan, pembelaan terhadap kaum lemah, dan berbagai kegiatan yang menguatkan umat Islam.
- Dengan jiwa: dalam kondisi dan aturan yang dibenarkan syariat dan diputuskan oleh pemimpin yang sah, seorang Muslim bisa diminta berjuang secara fisik untuk membela agama dan kaum tertindas.
Di masa sekarang, banyak bentuk perjuangan pada level ini yang bisa dilakukan dengan cara ilmiah, dakwah, media, dan kontribusi sosial, selama tetap berada dalam koridor syariat dan aturan negara.
D. Perjuangan Melawan Pelaku Kezaliman, Kemungkaran, dan Bid’ah
Tingkatan terakhir adalah perjuangan terhadap segala bentuk penyimpangan di tengah masyarakat: kezaliman, kemaksiatan, dan perbuatan bid’ah yang menodai kemurnian agama.
Urutan cara berperjuangan dalam hal ini adalah:
- Dengan tangan (kekuasaan) : ini adalah kewenangan penguasa, penegak hukum, atau pihak yang memiliki otoritas. Mereka bertugas menegakkan keadilan, menindak kejahatan, dan menjaga masyarakat dari kerusakan.
- Dengan lisan : Bagi yang tidak memiliki kekuasaan, ia bisa berperjuangan dengan nasihat, teguran yang baik, dakwah, tulisan, atau konten-konten edukatif yang mendorong masyarakat kembali kepada ketaatan.
- Dengan hati : Jika tidak mampu melakukan perubahan dengan tangan maupun lisan, seorang Muslim tetap wajib membenci kemungkaran dalam hatinya dan tidak ridha terhadap perbuatan dosa. Inilah bentuk iman yang paling lemah, namun tetap bernilai di sisi Allah.
Jika seluruh rincian di atas dikumpulkan, akan tampak bahwa perjuangan seorang Muslim mencakup tiga belas macam perjuangan, mulai dari melawan hawa nafsu dan setan, hingga membela agama dan menegakkan kebaikan di tengah masyarakat.
Seorang Muslim sejati tidak boleh berpangku tangan, hidup tanpa perjuangan. Meninggalkan seluruh bentuk perjuangan adalah sifat kemunafikan: tampak beriman, tetapi tidak ada kesungguhan membela kebenaran. Sebaliknya, semakin seseorang berusaha menghidupkan perjuangan dalam semua aspek ini, semakin tinggi derajatnya di sisi Allah.








