Dalam Islam, hidup seorang Muslim bukanlah hidup yang pasif dan hanya mengikuti arus. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa seorang Mukmin sejati adalah mereka yang berjuang: memperjuangkan agama Islam, agar Allah berada di atas segalanya, minimal dalam diri sendiri. Karena itu, banyak hadis yang menempatkan perjuangan di jalan Allah sebagai amal yang sangat tinggi kedudukannya, sekaligus memberi peringatan keras bagi mereka yang enggan berjuang.
Berikut ini beberapa sabda Rasulullah ﷺ tentang keutamaan jihad dan ancaman bagi orang yang meninggalkannya, agar kita semua masuk dan ikut serta berjuang di “jalan perjuangan” yang diridhai Allah.
Perjuangam: Amal yang Paling Dekat kepada Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَقْرَبُ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِهِ، وَلَا يُقَارِبُهُ شَيْءٌ. (حَدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ).
“Amal yang paling dekat kepada Allah ﷻ adalah jihad di jalan-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang mendekatinya.” (Hadis sahih, HR. Al-Bukhārī dari Faḍālah bin ‘Ubaid)
Hadis ini menegaskan bahwa perjuangan di jalan Allah adalah amal tertinggi dan terdekat kepada-Nya. Para ulama menjelaskan, kedekatan ini bukan hanya karena jihad melibatkan pengorbanan jiwa dan raga, tetapi juga karena di dalamnya terkumpul berbagai amal sekaligus: keikhlasan, tawakal, keberanian, kesabaran, dan pengorbanan.
Berjuang tidak selalu berarti turun ke medan perang. Perjuangan mencakup seluruh bentuk kesungguhan untuk meninggikan kalimat Allah. Siapa yang menjadikan hidupnya sebagai rangkaian perjuangan di jalan Allah, dialah yang dekat dengan-Nya. Sebaliknya, hidup yang hanya mengejar kenyamanan tanpa perjuangan untuk agama adalah hidup yang sia-sia.
Bahaya Hidup Tanpa Niat Berjuang
Dalam sebuah hadis disebutkan:
مَنْ مَاتَ وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِالْغَزْوِ مَاتَ عَلَىٰ شُعْبَةٍ مِنَ النِّفَاقِ.
“Barang siapa meninggal dunia dan tidak pernah menanamkan niat untuk berjihad, maka ia mati dalam keadaan membawa bagian dari kemunafikan.”
Orang yang seumur hidupnya tidak pernah terbersit niat untuk berjuang di jalan Allah, tidak pernah peduli dengan urusan agama, tidak punya kepedulian terhadap nasib umat, maka di dalam dirinya ada sifat kemunafikan: ia mengaku beriman, tapi hatinya tidak pernah siap berkorban untuk Allah. Jelas sekali bahwa perjuangan adalah barometer kesungguhan iman.
Azab bagi Kaum yang Meninggalkan Perjuangan
Rasulullah ﷺ bersabda:
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا تَرَكَ قَوْمٌ الْجِهَادَ إِلَّا عَمَّهُمُ اللَّهُ بِالْعَذَابِ. أَيْ: بِالذُّلِّ وَالِاسْتِعْبَادِ وَالْأَسْرِ وَتَحْكِيمِ أَعْدَاءِ الدِّينِ فِي رِقَابِهِمْ. (رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ).
“Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad, melainkan Allah akan menimpakan azab kepada mereka.” (HR. Aṭ-Ṭabrānī dengan sanad hasan dari Abū Bakr Aṣ-Ṣiddīq)
Azab ini bisa berupa kehinaan, perbudakan, penawanan, dikuasai dan diatur oleh musuh-musuh agama.
Hadis ini bukan sekadar ancaman di akhirat, tetapi juga gambaran hukum sosial yang sering kita lihat dalam sejarah. Ketika suatu umat:
- Tidak mau berkorban untuk agamanya.
- Lebih senang hidup nyaman walau diinjak kehormatannya.
- Tidak peduli pada kezhaliman yang menimpa saudaranya.
Maka Allah mencabut ‘izzah (kemuliaan) dari mereka. Akhirnya umat itu:
- Dipandang remeh.
- Dijajah secara fisik, ekonomi, budaya, atau pemikiran.
- Dipaksa mengikuti kehendak musuh-musuhnya.
Ketika Cinta Dunia Mengalahkan Semangat Perjuangan
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
وَقَالَ: إِذَا ضَنَّ النَّاسُ بِالدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَتَبَايَعُوا بِالْعِيْنَةِ، وَتَبِعُوا أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَتَرَكُوا الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ذُلًّا لَا يَنْتَزِعُهُ حَتَّىٰ يَرْجِعُوا إِلَىٰ دِينِهِمْ. (حَدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالطَّبَرَانِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ).
“Apabila manusia kikir dengan dinar dan dirhamnya, berjual beli dengan sistem ‘īnah (riba), mengikuti ekor-ekor sapi (sibuk dengan urusan dunia), dan meninggalkan jihad di jalan Allah, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka yang tidak akan dicabut hingga mereka kembali kepada ajaran agama.”
(Hadis sahih, HR. Ibnu Ḥibbān, Aṭ-Ṭabrānī, dan Al-Baihaqī dari Ibnu ‘Umar)
Hadis ini mengurai penyakit yang sering menimpa umat:
Kikir dengan harta
Manusia enggan berinfak di jalan Allah, perhitungan ketika diminta membantu perjuangan, pendidikan Islam, atau pembelaan terhadap kaum lemah.
Terjerumus dalam transaksi haram
Berbisnis dengan cara haram dan berbagai praktik yang merusak keberkahan harta.
Sibuk dengan dunia
Digambarkan dengan “mengikuti ekor-ekor sapi”: sibuk mengurus dunia sampai lupa akhirat, seolah hidup hanya untuk bekerja, mengejar materi, dan memuaskan keinginan.
Meninggalkan perjuangan
Tidak ada lagi semangat membela agama, tidak ada keberanian berkata benar, tidak ada pengorbanan untuk kebaikan umat.
Kombinasi penyakit ini melahirkan satu hukuman: kehinaan yang terus menimpa. Dan kehinaan itu tidak akan diangkat sampai umat kembali kepada agamanya, membersihkan niat, memperbaiki muamalah, dan menyalakan kembali semangat perjuangan dalam makna yang luas: jihad ilmu, jihad dakwah, jihad ekonomi yang halal, jihad menegakkan keadilan, dan utamanya jihad melawan hawa nafsu.
Ketika Umat Mengagungkan Dunia, Islam Kehilangan Wibawa
Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda:
وَقَالَ: إِذَا عَظَّمَتْ أُمَّتِي الدُّنْيَا نُزِعَتْ مِنْهَا هَيْبَةُ الْإِسْلَامِ، وَإِذَا تَرَكَتِ الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ حُرِمَتْ بَرَكَةَ الْوَحْيِ، وَإِذَا تَسَابَتْ أُمَّتِي سَقَطَتْ مِنْ عَيْنِ اللَّهِ. (رَوَاهُ الْحَاكِمُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ).
“Apabila umatku mengagungkan dunia, maka akan dicabut darinya keagungan Islam. Jika mereka meninggalkan amar ma‘ruf dan nahi mungkar, maka mereka diharamkan dari keberkahan wahyu. Dan apabila umatku saling mencela, maka mereka akan jatuh dari pandangan rida Allah.” (HR. Al-Ḥākim dari Abū Hurairah)
Hadis ini menjelaskan hubungan langsung antara sikap umat dan kondisi agamanya:
Mengagungkan dunia
Ketika dunia menjadi ukuran utama kejayaan—harta, jabatan, dan popularitas—maka wibawa Islam di mata umat sendiri akan pudar. Mereka malu dengan agamanya, tapi bangga dengan dunia.
Meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar
Saat tidak ada lagi yang mengingatkan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, keberkahan ilmu dan petunjuk akan dicabut. Agama tinggal slogan, tidak lagi menghidupkan hati.
Saling mencela dan merendahkan
Ketika umat sibuk saling menjatuhkan, mengolok, dan membenci satu sama lain, Allah akan menjauhkan mereka dari rida-Nya.
Semua ini adalah gambaran “umat yang meninggalkan perjuangan”:
Tidak lagi berjuang melawan nafsu cinta dunia.
Tidak berjuang mengoreksi kemungkaran.
Tidak berjuang menjaga ukhuwah dan kehormatan sesama Muslim.
Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan
Dari rangkaian hadis di atas, kita bisa mengambil beberapa pelajaran penting:
- Perjuangan adalah amal yang sangat tinggi derajatnya, dan setiap Muslim harus turut berjuang sesuai perjuangan yang bisa ia lakukan.
- Meninggalkan perjuangan—dalam seluruh makna luasnya—mengundang kehinaan dan azab, baik di dunia maupun di akhirat.
- Cinta dunia, kikir, harta yang haram, dan lalai dari amar ma’ruf nahi munkar adalah penyakit yang mematikan ruh perjuangan.
- Kemuliaan umat hanya akan kembali jika mereka kembali menempuh jalan perjuangan: melawan hawa nafsu, memperbaiki diri, membela kebenaran, dan berkorban untuk agama.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang hidup dalam perjuangan dan wafat dalam keadaan diridhai-Nya.








